Pulau Tidung tak hanya memiliki keindahan akan alamnya, namun memiliki latar sejarah. Ternyata disana terdapat sebuah makam Raja Pandita yang dahulu diasingkan kolonial Belanda.
Pada masa penjajahan Belanda, Pulau Tidung dijadikan tempat pengasingan bagi siapa saja yang membangkang kepada pemerintahan kolonial. Muhammad Kaca adalah salah satunya. Nama Tidung pun ia namakan sesuai dengan sukunya di Kalimantan Timur, yaitu suku Tidung. Sebelumnya, bernama pulau Air Besar.
Muhammad Kaca lahir pada tahun 1817, dia berasal dari daerah Malinau, Kalimantan Timur. Nama aslinya adalah Muhammad Sapu. "Muhammad Kaca adalah nama samarannya saat diasingkan ke pulau Tidung oleh kolonial Belanda," kata Edy Rukhiyat yang merupakan generasi ke empat dari Muhammad Kaca, Minggu (12/2).Dia adalah tokoh penentang imprialisme Belanda pada masanya, hingga kemudian diasingkan pada tahun 1892 di pulau Tidung dan wafat pada tahun 1898. Ia pun dimakamnya di sebelah barat pulau Tidung.Selanjutnya, suku Tidung yang berada di Malinau, Kalimantan Timur mengetahui kalau di Kepulauan Seribu ada sebuah pulau yang dinamai pulau Tidung. Kemudian, beberapa orang dari suku Tidung mendatangi dan mencari asal-usul alasan pulau tersebut diberi nama pulau Tidung. Dengan harapan menemukan keterkaitan dengan sukunya, serta mencari makam Raja Tidung, yaitu Raja Pandita, yang tidak diketahui keberadaan makamnya.
Pada bulan Februari 2011, ditemukanlah makam yang diyakini lokasi Raja Pandita dikebumikan, yang tak lain Muhammad Kaca. Ternyata, Muhammad Kaca adalah Raja Pandita, seorang raja dari kerajaan Tidung yang berada di Malinau, Kalimantan Timur yang pernah diasingkan."Waktu itu, penemuan makam Raja Pandita sempat menghebohkan seluruh masyarakat pulau Tidung," ujar Edy.
Pemindahan makam dimulai dengan menggali makam Raja Pandita beserta makam istrinya, Thea dan anaknya Hamidun. Prosesi pemindahan makam menggunakan adat dan tradisi suku Tidung, kerangka ketiganya dipindahkan ke lahan pemakaman baru yang berbentuk bangunan seluas 9x25 meter persegi di lahan TPU Pulau Tidung.
Pada tanggal 3 Juli 2011, Bupati Kepulauan Seribu, Achmad Ludfi dan Bupati Malinau, Yansen TP meresmikan komplek pemakaman Raja Pandita, Muhammad Kaca sebagai cagar budaya, sebuah bukti sejarah yang harus dijaga.
Makam Sejarah Raja Pandita Pulau Tidung
Bagi warga dayak Tidung nama Raja Pandita atau biasa di panggil eyang kaca oleh warga pulau tidung sangat disegani selain tokoh yang anti penjajah juga panutan. Karena kegigihannya dalam memenentang Belanda, akhirnya Raja Pandita di tangkap dan diasingkan ke Kepulauan seribu. Raja Pandita asli etnik Tidung Malinau sempat dicari makamnya oleh sanak keluarga ke penjuru tanah air. Akhirnya diketemukan di Kepulauan Seribu yang dikenal dengan Pulau Tidung sampai saat ini, sebagai bentuk penghormatan kepada etnik Tidung- Raja Pandita. Saat prosesi pembongkaran kuburan dimulai, Minggu pagi (3/7), cuaca di Kampung Baru – sebelah barat Pulau Tidung, sangat cerah. Tidak ada hambatan apapun ketika ritual budaya Tidung digelar di kawasan tersebut. Jasad Raja Pandita tidak diangkut ke Malinau Kalimantan Timur, tapi dimakamkan di salah satu pulau di Kepulauan Seribu Selatan yang sejak dulu sudah diberinama Pulau Tidung.
Di pulau tersebut sudah terdapat banyak pemukiman penduduk dan mereka sudah akrab disebut sebagai warga Tidung. Prosesi pemindahan dengan arak-arakan sepanjang 3 Kilometer membelah pulau, disambut hangat warga setempat. Pemindahan dilakukan karena di kuburan yang lama diketahui tanahnya bermasalah, sehingga Lembaga Adat Besar Tidung bersama Pemkab Malinau berinisiatf memindahkan ke tempat lebih aman. Yang aneh saat berlangsung prosesi penggalian, warga yang menggali kubur sempat tercengang, karena selama ini yang namanya " semut kranggan " termasuk jenis semut yang sangat ganas jika menyengat. Tapi kali ini lain, semut kranggan yang ada di atas makam Raja Pandita justru jadi semut yang manis tidak mau menggigit hanya menempel di kaki dan tangan para penggali makam. Demikian pula kondisi tanah dan pasir yang ada di makam Raja Pandita, berbau bau wangi merebab.
Kata warga disekitar makam tidak aeperti biasanya, justru saat penggalian untuk di pindah semerbab bau wangi di Makam Raja Pandita. Keanehan yang lainnya adalah kondisi jasad Raja Pandita yang sudah berumur ratusan tahun itu tulang belulangnya masih utuh, tengkorak dan rambut masih ada. Sangat berbeda dengan kondisi tulang isterinya Tya dan anak semata wayangnya Midun ,ustru sudah menjadi abu. Ketuiga jasad dibungkus kain kafan. Sisa jasad yang telah dibungkus kain kafan tersebut diserahterimahkan oleh warga keturunan Tidung Pulau Seribu kepada tiga perwakilan keluarga Raja Pandita dari Malinau. Saat arak-arakan yang menyita perhatian penduduk Pulau Tidung diikuti oleh TNI AD dari Kodim Raja Pandita Malinau. Sisa jasad Raja Pandita dibongkar bersama istrinya, Thiya dan putranya, Midun. Kemudian dipindahkan ke lokasi TPU Kampung Tidung, sebelah selatan Pulau Tidung.
TPU Pulau Tidung merupakan wakaf dari keturunan Raja Pandita bernama Hamid. Di luar pagar TPU tersebut dibangun sebuah bangunan berbentuk museum kecil untuk mengubur jasad Raja Pandita dan keluarganya. Di kuburan yang menyerupai museum tersebut juga dipasang beberapa informasi mengenai silsilah dan perjuangan raja Pandita melawan Belanda dimasa perjuangan. Hadir dalam acara pemindahan kubur Raja Pandita antara lain Bupati Malinau Yansen TP dan wakilnya, Topan Amrulah, Bupati Bulungan Budiman Arifin dan Bupati Pulau Seribu H Lutfi. Selain tiga bupati, hadir pula Komandan Batalyon Raja Pandita Letkol Nasrulloh Nasution, Kapolres Malinau Desmon Tarigan, Ketua DPRD Malinau Martin Labo serta beberapa pemangku adat Tidung dari Malinau. Prosesi penguburan jasad ke lokasi baru ditandai dengan pembacaan riwayat hidup Raja Pandita, yang dibacakan oleh Usman, seorang keturunan Raja Pandita. Diuraikan oleh Usman bahwa nama asli Pandita adalah Sapu Al Kaca dengan gelar Panembahan Raja Pandita. Ayahnya bernama Hanafiah asal Berau dan ibunya warga suku Tidung. Pandita tinggal di Kwalau Malinau tahun 1817. Keluarga Pandita dipindahkan dari Bulungan ke Malinau karena menghindari peperangan saudara yang kerap terjadi. Dan di Malinau Pandita hidup damai.Dalam silsilah Pandita adalah anak kedua dari 7 bersudara. Gelar panembahan Raja Pandita diserahkan tahun 1873 di Pulau Sapi. Saat pemerintahan Pandita, Kerajaan Tidung di Malinau ramai didatangi suku dari Banjar dan Arab. Pendatang ini masuk ke Malinau dalam rangka bisnis yang membuat ekonomi di daerah tersebut berkembang karena memberlakukan pemungutan pajak bagi pedagang sebesar 10 persen. Pemda Kabupaten Malinau akan membuat memugar istana Raja Pandita di Malinau dijadikan obyek wisata religius bersanding dengan makam Raja Pandita yang ada di Kepulauan Seribu.
Pada masa penjajahan Belanda, Pulau Tidung dijadikan tempat pengasingan bagi siapa saja yang membangkang kepada pemerintahan kolonial. Muhammad Kaca adalah salah satunya. Nama Tidung pun ia namakan sesuai dengan sukunya di Kalimantan Timur, yaitu suku Tidung. Sebelumnya, bernama pulau Air Besar.
Muhammad Kaca lahir pada tahun 1817, dia berasal dari daerah Malinau, Kalimantan Timur. Nama aslinya adalah Muhammad Sapu. "Muhammad Kaca adalah nama samarannya saat diasingkan ke pulau Tidung oleh kolonial Belanda," kata Edy Rukhiyat yang merupakan generasi ke empat dari Muhammad Kaca, Minggu (12/2).Dia adalah tokoh penentang imprialisme Belanda pada masanya, hingga kemudian diasingkan pada tahun 1892 di pulau Tidung dan wafat pada tahun 1898. Ia pun dimakamnya di sebelah barat pulau Tidung.Selanjutnya, suku Tidung yang berada di Malinau, Kalimantan Timur mengetahui kalau di Kepulauan Seribu ada sebuah pulau yang dinamai pulau Tidung. Kemudian, beberapa orang dari suku Tidung mendatangi dan mencari asal-usul alasan pulau tersebut diberi nama pulau Tidung. Dengan harapan menemukan keterkaitan dengan sukunya, serta mencari makam Raja Tidung, yaitu Raja Pandita, yang tidak diketahui keberadaan makamnya.
Pada bulan Februari 2011, ditemukanlah makam yang diyakini lokasi Raja Pandita dikebumikan, yang tak lain Muhammad Kaca. Ternyata, Muhammad Kaca adalah Raja Pandita, seorang raja dari kerajaan Tidung yang berada di Malinau, Kalimantan Timur yang pernah diasingkan."Waktu itu, penemuan makam Raja Pandita sempat menghebohkan seluruh masyarakat pulau Tidung," ujar Edy.
Pemindahan makam dimulai dengan menggali makam Raja Pandita beserta makam istrinya, Thea dan anaknya Hamidun. Prosesi pemindahan makam menggunakan adat dan tradisi suku Tidung, kerangka ketiganya dipindahkan ke lahan pemakaman baru yang berbentuk bangunan seluas 9x25 meter persegi di lahan TPU Pulau Tidung.
Pada tanggal 3 Juli 2011, Bupati Kepulauan Seribu, Achmad Ludfi dan Bupati Malinau, Yansen TP meresmikan komplek pemakaman Raja Pandita, Muhammad Kaca sebagai cagar budaya, sebuah bukti sejarah yang harus dijaga.
Makam Sejarah Raja Pandita Pulau Tidung
Bagi warga dayak Tidung nama Raja Pandita atau biasa di panggil eyang kaca oleh warga pulau tidung sangat disegani selain tokoh yang anti penjajah juga panutan. Karena kegigihannya dalam memenentang Belanda, akhirnya Raja Pandita di tangkap dan diasingkan ke Kepulauan seribu. Raja Pandita asli etnik Tidung Malinau sempat dicari makamnya oleh sanak keluarga ke penjuru tanah air. Akhirnya diketemukan di Kepulauan Seribu yang dikenal dengan Pulau Tidung sampai saat ini, sebagai bentuk penghormatan kepada etnik Tidung- Raja Pandita. Saat prosesi pembongkaran kuburan dimulai, Minggu pagi (3/7), cuaca di Kampung Baru – sebelah barat Pulau Tidung, sangat cerah. Tidak ada hambatan apapun ketika ritual budaya Tidung digelar di kawasan tersebut. Jasad Raja Pandita tidak diangkut ke Malinau Kalimantan Timur, tapi dimakamkan di salah satu pulau di Kepulauan Seribu Selatan yang sejak dulu sudah diberinama Pulau Tidung.
Di pulau tersebut sudah terdapat banyak pemukiman penduduk dan mereka sudah akrab disebut sebagai warga Tidung. Prosesi pemindahan dengan arak-arakan sepanjang 3 Kilometer membelah pulau, disambut hangat warga setempat. Pemindahan dilakukan karena di kuburan yang lama diketahui tanahnya bermasalah, sehingga Lembaga Adat Besar Tidung bersama Pemkab Malinau berinisiatf memindahkan ke tempat lebih aman. Yang aneh saat berlangsung prosesi penggalian, warga yang menggali kubur sempat tercengang, karena selama ini yang namanya " semut kranggan " termasuk jenis semut yang sangat ganas jika menyengat. Tapi kali ini lain, semut kranggan yang ada di atas makam Raja Pandita justru jadi semut yang manis tidak mau menggigit hanya menempel di kaki dan tangan para penggali makam. Demikian pula kondisi tanah dan pasir yang ada di makam Raja Pandita, berbau bau wangi merebab.
Kata warga disekitar makam tidak aeperti biasanya, justru saat penggalian untuk di pindah semerbab bau wangi di Makam Raja Pandita. Keanehan yang lainnya adalah kondisi jasad Raja Pandita yang sudah berumur ratusan tahun itu tulang belulangnya masih utuh, tengkorak dan rambut masih ada. Sangat berbeda dengan kondisi tulang isterinya Tya dan anak semata wayangnya Midun ,ustru sudah menjadi abu. Ketuiga jasad dibungkus kain kafan. Sisa jasad yang telah dibungkus kain kafan tersebut diserahterimahkan oleh warga keturunan Tidung Pulau Seribu kepada tiga perwakilan keluarga Raja Pandita dari Malinau. Saat arak-arakan yang menyita perhatian penduduk Pulau Tidung diikuti oleh TNI AD dari Kodim Raja Pandita Malinau. Sisa jasad Raja Pandita dibongkar bersama istrinya, Thiya dan putranya, Midun. Kemudian dipindahkan ke lokasi TPU Kampung Tidung, sebelah selatan Pulau Tidung.
TPU Pulau Tidung merupakan wakaf dari keturunan Raja Pandita bernama Hamid. Di luar pagar TPU tersebut dibangun sebuah bangunan berbentuk museum kecil untuk mengubur jasad Raja Pandita dan keluarganya. Di kuburan yang menyerupai museum tersebut juga dipasang beberapa informasi mengenai silsilah dan perjuangan raja Pandita melawan Belanda dimasa perjuangan. Hadir dalam acara pemindahan kubur Raja Pandita antara lain Bupati Malinau Yansen TP dan wakilnya, Topan Amrulah, Bupati Bulungan Budiman Arifin dan Bupati Pulau Seribu H Lutfi. Selain tiga bupati, hadir pula Komandan Batalyon Raja Pandita Letkol Nasrulloh Nasution, Kapolres Malinau Desmon Tarigan, Ketua DPRD Malinau Martin Labo serta beberapa pemangku adat Tidung dari Malinau. Prosesi penguburan jasad ke lokasi baru ditandai dengan pembacaan riwayat hidup Raja Pandita, yang dibacakan oleh Usman, seorang keturunan Raja Pandita. Diuraikan oleh Usman bahwa nama asli Pandita adalah Sapu Al Kaca dengan gelar Panembahan Raja Pandita. Ayahnya bernama Hanafiah asal Berau dan ibunya warga suku Tidung. Pandita tinggal di Kwalau Malinau tahun 1817. Keluarga Pandita dipindahkan dari Bulungan ke Malinau karena menghindari peperangan saudara yang kerap terjadi. Dan di Malinau Pandita hidup damai.Dalam silsilah Pandita adalah anak kedua dari 7 bersudara. Gelar panembahan Raja Pandita diserahkan tahun 1873 di Pulau Sapi. Saat pemerintahan Pandita, Kerajaan Tidung di Malinau ramai didatangi suku dari Banjar dan Arab. Pendatang ini masuk ke Malinau dalam rangka bisnis yang membuat ekonomi di daerah tersebut berkembang karena memberlakukan pemungutan pajak bagi pedagang sebesar 10 persen. Pemda Kabupaten Malinau akan membuat memugar istana Raja Pandita di Malinau dijadikan obyek wisata religius bersanding dengan makam Raja Pandita yang ada di Kepulauan Seribu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar